Minggu, 17 April 2016

INTROSPEKSI JURU KISAH

YUK INTROSPEKSI.. :)

Kita Guru? Juru kisah?
Barangkali, kita ini memang sakti :D
Kalau sedang bersila ukhuwah hendak berkisah, kadang-kadang tuan rumah menitipkan pesan agar kita menyampaikan ini dan itu kepada anak-anak. Hal sepele misalnya: anak-anak suka bolo-boloan atau siwak-siwakan. Lewat pengkisah nasihat akan mengalir indah, dan anak merasa tanpa digurui. Bahkan masalah potong rambut sampai potong kuku dititipkan pada juru kisah.

Saat komitmen sebagai juru kisah muslimah, ada beberapa hal yang perlu saya genggam; saat berkisah, kisah yang diberikan harus inspiratif islami, menebar kisah-kisah keteladanan, baik-buruk sumbernya syariah, mengajak pada kerinduan akan kebahagiaan hakiki yang dijanjikan Allah, yaitu keridhoanNya.
Maka tutup telinga saat dianggap pengkisah aliran radikal. Hehe.. yang benar kami adalah orang-orang aliran optimis :D

Bismillah, selanjutnya Allah akan menuntun dengan lancar lisan ini nemberi nasihat; yuk jadi muslim sejati, bukan muslim palsu. Saat itulah, sebuah PR pada diri sedang dipertanyakan.
Bagaimana bisa nasihat menancap pada anak didik jika niat sudah tidak lurus.
Juru kisah, akan mendakwahkan kebaikan. Maka marilah kita periksa ucapan kita. "Yuk jadi anak yang rajin ngaji sayang" bisakah masuk ke lubuk hati anak didik hingga dipraktikkan, jika kita yang memberi nasihat berangkat ke majelis taklim saja ogah-ogahan. Mengajak anak mencintai masjid, sementara juru kisahnya ke masjid untuk sholat berjamaah saja jarang. Mengajak anak suka membaca Al Quran sementara juru kisahnya memegang Al Quran jarang juga.
Mari kita periksa rawatib kita, sholat kita apakah sudah di awal waktu?, tahajud kita?, dhuha kita?, puasa sunah kita? dan terlebih ialah manajemen hati kita. Bagaimana hubungan kita dengan sesama. Masih sering terpeleset pada ghibahkah? Apakah masih suka sedih saat orang lain bahagia, dan sebaliknya?, di sinilah INTROSPEKSI itu sangat penting.
Oow.. kalau begitu mundur saja, karena belum sempurna :D. Eit..!! Tak ada manusia sempurna. Para juru kisah bukan Malaikat, dan memberi nasihat tak menunggu kita siap. Semua butuh proses. Susah bukan berarti tidak bisa. Luruskan niat, menata langkah. Biar lah lelah asalkan lillah. Kejar ridhoNya, bukan mengejar tenar dan sanjungan manusia. So!

Surabaya, 17 April 2016
#NasihatUntukDiri
@PutyAisy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar